About This Blog

"Mencari untuk Berbagi" adalah suatu Blog yang dibuat untuk memberikan Sekedar info yang ada dari hasil pencarian Berbagai sumber atau coretan-coretan yang dipikirkan sendiri untuk dibagi kepada semua orang yang ingin membaca - penulis
Tampilkan postingan dengan label Sentuhan Qalbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sentuhan Qalbu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Orientasi Kebaikan

dakwatuna.com - Kehidupan kita, dengan segenap cita dan rasa yang terus menerus kita tunjukkan dalam sikap dan perilaku; adalah buah dari keyakinan diri. Sejak pagi hingga malam, kiranya apa yang telah kita lakukan? Adakah orientasi perilaku dan hati ini tertuju pada kebahagiaan yang bernilai akhirat? Saya teringat dengan nasihat salah satu dosen di satu pertemuan, dua atau tiga bulan yang lalu,
“…Kalau kamu pergi ke suatu tempat, jangan sampai tidak ada orientasi akhirat. Coba bayangkan kalau meninggal di sana, apakah akan bangga dengan catatan amal yang hanya berorientasi kesenangan dunia?”.
Jujur, pas awal mendengar; nasihat tersebut terasa berlebihan.
“Masa, kita tidak boleh refreshing, misalnya sekedar jalan-jalan melepas rutinitas sibuknya pekerjaan?”, tanyaku dalam hati. Namun, setelah dipikir mendalam saya jadi mengerti. Apa iya, Allah hanya ‘iseng’ menciptakan kita di dunia ini? Buktinya tidak. Apa yang ada dalam diri kita; seperti jantung, hati, ginjal, bahkan sampai alis yang terkesan perangkat ‘sepele’ pun dirancang dan dibuat Allah dengan ‘tujuan kebaikan’.
Lalu, apakah kita pantas melangkahkan kaki, berbicara, hingga memikirkan sesuatu dengan tanpa orientasi akhirat? Ya, sejatinya apapun amal yang kita lakukan; entah kuliah, bekerja mencari nafkah, bahkan ‘sekedar’ duduk di bawah rindang pohon untuk melepas lelah; semuanya tidak akan luput dari pengawasan Allah.
Adalah sia-sia, jika waktu yang terluangkan untuk sebuah aktivitas ternyata tidak berbuah pahala. Adalah penghamburan harta, tenaga, dan pikiran, bila diam dan geraknya otot kita ternyata hanya berorientasi dunia.
Cukuplah kiranya, kita merenungi kisah perjumpaan Rasulullah dan Muadz bin Jabal di suatu pagi.
“Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu’adz?”, tanya Rasulullah.
“Pagi hari ini, aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah,” jawabnya.
Mendengar jawaban tersebut, Nabi pun bertanya lagi “setiap kebenaran ada hakikatnya, maka apakah hakikat keimananmu?”
“Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka”, jawab Muadz dengan penuh kemengertian.
“Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!”, seru Rasul yang mengobarkan semangat sahabatnya.
Layaknya Muadz bin Jabal, semoga apa yang kita lakukan saat ini tetap berorientasi kebaikan. Karena, tak sedikit pun kita tahu; satu atau dua menit mendatang Allah akan memberikan keputusan apa bagi kehidupan kita.
“Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan.” (Do’a Muadz bin Jabal)

Sumber: Sumber

Temukan Kebahagiaan Sejati dalam Rasa Syukur

dakwatuna.com - Bismillahirrahmanirrahiim.
Siapa yang tidak ingin jadi pemenang atau menjadi yang terbaik? Jika dunia ini adalah kompetisi maka mereka yang ada di dunia pasti berlomba-lomba agar menjadi yang terbaik. Berbeda dengan hukum rimba, siapa yang menang akan bertahan hidup, memiliki wilayah hingga menguasai hutan. Lalu yang kalah, bersiaplah menjadi mangsa dan menemui ajal. Jika begitu, tak ada pilihan selain menang dalam hukum rimba. Apakah sama kehidupan mereka dengan kehidupan manusia? Dimana hanya ada satu pemenang dan dialah yang bisa bertahan hidup. Tentu tidak. Inilah salah satu perbedaannya. Dalam kehidupan manusia terdapat banyak pemenang. Banyak bidang dimana kita bisa menjadi yang terbaik. Ada orang yang unggul di bidang jurnalistik, akademis, tata boga, bahasa, atau bidang lainnya. Lantas bagaimana jika kita merasa tidak mahir dalam bidang apapun? Atau tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan? Ungkapan yang biasa dikatakan jika hal tersebut terjadi adalah “Aku tidak bahagia”.
Ada satu hal yang mungkin dilupakan oleh sebagian orang dan sebenarnya adalah kunci untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu qana’ah. Satu kata yang dapat memberi makna lebih dalam kehidupan kita, satu kata yang dapat menentramkan hati, satu kata yang sulit kita amini dalam prakteknya. Qana’ah atau merasa cukup merupakan wujud rasa bersyukur kita terhadap Allah SWT dan darinyalah kita dapat terhindar dari kekufuran juga keputusasaan. Manusia memang tidak pernah merasa puas, namun manusia juga butuh kebahagiaan sehingga manusia-lah yang akhirnya harus memilih untuk mensyukuri apa yang ada atau mengikuti nafsu akan ketidakpuasannya dalam segala hal. Sesuai dengan hadits berikut,
Abdullah bin Amru RA berkata: Bersabda Rasulullah SAW, sesungguhnya beruntung, orang yang masuk Islam dan rezkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya. (HR. Muslim).
Robert Emmons, seorang professor psikologi dari University of California-Davis dan peneliti lainnya mengatakan bahwa bersyukur adalah “faktor yang terlupakan” dalam mencari kebahagiaan. Mereka juga menambahkan bahwa dengan bersyukur, kita dapat mencapai dan mempertahankan ketenangan dan kepuasan lahir dan batin. Selain itu, bersyukur juga dapat ‘memberantas’ depresi yang selama ini dapat melahirkan beberapa penyakit karena menyebabkan disfungsi sistem imun.
Selain dapat menyehatkan fisik dan mental, tentunya Allah akan menambah rizki setiap hambaNya yang bersyukur. Hal ini tertera dalam firmanNya dalam surat Ibrahim ayat 6,
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Satu lagi yang merupakan realisasi rasa bersyukur terhadap Allah SWT yaitu dengan bersedekah. Tidaklah rugi orang yang bersedekah karena Allah senantiasa melipatgandakan setiap rupiah ataupun barang yang kita berikan untuk mereka yang membutuhkan. Bahkan, mendapatkan kemuliaan di mata Allah SWT.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah SWT, Allah SWT akan mengangkat (derajatnya).” (HR. Muslim)
Jadi, untuk mencapai kebahagiaan, kita harus membayarnya dengan bersyukur. Salah satu bentuk rasa bersyukur yakni dengan selalu bersikap qana’ah dan bersedekah. Senyum, yang merupakan bagian dari sedekah, akan mendatangkan kebahagiaan bagi diri sendiri juga lingkungan sekitar. Sebuah siklus yang unik.
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. At –Tirmidzi)
Wallahu’alam bishawab.


Sumber: Sumber

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops